Bukan investasi duit atau emas atau reksadana etece endebrei.
Investasi maksudku disini investasi dalam bertemen. Relationship gitu deh judul kerennya.
Gw orangnya kalau untuk kenal-kenal lucu gitu cepet. Tapi untuk deket, agak susah. Menurut terawangan sahabat-sahabat sih karena daku orangnya malesan. Hahaha...
Malesnya kayak gini..
Gw orangnya berusahaaaa banget jaga omongan dan tingkah laku supaya gak nyinggung orang lain. Soalnya selain gw percaya bahwa itulah cara terbaik memperlakukan orang laen, nyadar banget kalo eikeh orangnya sensi...abeshhh ._.
Nah, karena tau diri, gw berusaha jangan jadi manusia brengsek yang sensi tapi kasar ama orang laen. Peraturan emas gitu deh, perlakukan orang lain seperti bagaimana kamu sendiri ingin diperlakukan.
Namunnnn...namanya hidup ya, suka gak lucu teu pararuguh; sering juga ketemu orang yang entah kenapa ngerasa hidupnya paling malang sedunia terus balesnya ama orang-orang di sekitarnya.
Kemalesan gw mentolerir hal-hal yang menurutku konyol berperan besar mengeliminasi banyak orang jadi deket.
Sama orang-orang yang cocok biasanya kan kita jadi makin sering maen bareng kan ya. Nah disinilah baru diuji sebuah pertemenan itu.
Setelah sering jalan bareng, ngalamin pait manis hidup beberapa saat basamo, barulah kita bisa liat karakter asli orang lain.
Biasanya sifat pereu itu ingin mengubah (bilangnya sih memperbaiki yaaa) orang lain.
Disinilah kemalasan gw muncul.
Duluuu gitu jaman SMU masihlah mau nahanin dan berharap orang akan berubah jadi lebih baik.
Jaman kuliah gitu ada juga beberapa yang ditahankan karena gw percaya dasarnya orang-orang ini baik. Hanya aja karena sama-sama masih muda dan baru pertama hidup jauh dari keluarga, tingkahnya gak beda jauh ama rusa masuk kampung. Saling memaklumi dehh...
Tapi sekarang...
Lulus kuliah udah dari jaman kapan tauk, apalagi lulus SMU; masa iya sih belum ada yang ngasih tahu kalau moody itu gak pantes banget walau alesan pms? Masa iya sih belum tau kalau semua manusia di muka bumi ini juga punya masalah masing-masing dan mereka tau kalau ngelampiasin sama orang lain itu - selain nyebelin - nggak banget??
Gw dari dulu bukan orang yang semangat ngubah orang lain. Menurut gw, hak semua orang jadi dirinya sendiri. Siapalah gw ini mau ngubah orang sementara gw sendiri gak sempurna? Oleh karena itu, gw cukup tau diri untuk menjaga jarak dengan orang-orang yang gw liat bakal bentrok hebat kalau terlalu deket.
Silahkan aja loh kalau mau uring-uringan gak karuan.
Silahkan juga ngejalanin hidup sesuka hati seakan dunia ini gak kenal yang namanya konsekuensi.
Monggo banget kalo ngerasa nyaman diperalat orang dan dijajah emosi sendiri.
Nggak apa-apa kalo janji buat lo itu semurah jajanan anak SD yang cantik di luar tapi racun kalo ditelen.
Sementara itu, gw permisi ya...
Gw nggak marah karena kalau marah berarti gw masih peduli.
Gw mau nyari investasi yang laen ama temen laen. Bukan perhitungan...semata-mata gw orang yang gak mau memaksa orang lain berubah. Hidup soalnya udah sulit, buat gw temenan itu kudunya menghasilkan hal yang positif. Investasi yang negatif itu konyol banget, no?!
*masih takjub liat orang yang udah tua gak beda ama ababil logika juga emosinya*
Friday, August 30, 2013
Thursday, August 29, 2013
Cups
Pernah nonton Pitch Perfect? Saya menontonnya sudah beberapa kali. Salah satu lagu yang teramat amat sangat saya sukai adalah lagu ketika Becca audisi untuk masuk The Bellas. Judulnya 'When I'm Gone'.
Tadinya saya hanya suka menonton adegan-adegan menyanyi mereka berulang-ulang. Semua lagunya bagus dan banyak yang diaransemen ulang yang menurut saya malah jauh lebih keren dari versi aslinya.
Sekarang?
Sekarang kok saya pengen bisa menyanyikan sambil membuat irama memakai cups seperti di film itu yaaa..
Eniwei, ini lagu Cups yang ada di film tersebut. Viklip ini tidak mengambil adegan di Pitch Perfect.
Bagus yaaa..
Eniwei, saya sedang latihan menyanyikan lagunya sambil membuat irama menggunakan cups seperti nona Anna ini. Apalagi beberapa waktu yang lalu saya melihat Indra Herlambang sukses melakukan ini di tipi *kompetitip teu puguh*
Permisi ah...mau latihan lagi
Tadinya saya hanya suka menonton adegan-adegan menyanyi mereka berulang-ulang. Semua lagunya bagus dan banyak yang diaransemen ulang yang menurut saya malah jauh lebih keren dari versi aslinya.
Sekarang?
Sekarang kok saya pengen bisa menyanyikan sambil membuat irama memakai cups seperti di film itu yaaa..
Eniwei, ini lagu Cups yang ada di film tersebut. Viklip ini tidak mengambil adegan di Pitch Perfect.
Eniwei, saya sedang latihan menyanyikan lagunya sambil membuat irama menggunakan cups seperti nona Anna ini. Apalagi beberapa waktu yang lalu saya melihat Indra Herlambang sukses melakukan ini di tipi *kompetitip teu puguh*
Permisi ah...mau latihan lagi
Matre...?
Tadi jalan-jalan ke blognya mbak Ira dan cengengesan sendiri liat posting tersebut.
Baca posting itu bikin saya tergoda untuk update blog saya sendiri yang, syaolo, gak kesentuh nyaris setaun *menunduk malu*
Sampai-sampai ada yang ninggalin komen baru di-publish sekarang (maaf yaa mbak Rika) *menunduk makin dalam*
Jadi..saya suka liat gambar yang diposting di blog mbak Ira tadi. Ini nih gambarnya:
Saya dan sahabat-sahabat saya punya pikiran yang sama soal ini. Hanya saja, lingkungan mereka lebih...apa ya sebutannya? Lingkungan mereka memaklumi dan bahkan banyak yang mengamini ide tadi.
Saya 'kebetulan' berada di lingkungan yang cenderung melihat pikiran ini kurang pantas dianut kaum wanita. Sebutan matre sudah lama melekat pada saya; bercanda atau tidak kurang saya pedulikan sih.
Seperti tulisan di gambar atas dan juga posting mbak Ira, saya amat setuju tentang hal ini dari jaman saya kecil. Bukan berarti saya mencari lelaki kaya...semua lelaki pilihan saya di masa lalu tidak ada yang kaya raya. Tapiii...mereka berotak cerdas dan tangguh di padang yang bernama kehidupan ini (tjieee). Hal ini semakin kukuh saya jadikan pegangan ketika saya menyaksikan mama saya terkena kanker dan berjuang selama 2 tahun untuk sembuh. Mengapa? Hidup ini tidak bisa disangka loh ujiannya. Jadi, di medan laga ini kiranya kita cerdas memilih partner hidup. Jika memang tidak atau belum bertemu, jangan paksakan diri. Kesalahan memilih pasangan katanya neraka pribadi yang abadi, hehehe
Sekarang ya, coba kita andaikan calon pasangan hidup ini adalah partner kerja di kantor misalnya. Kalau partner kerja kita tidak bisa diandalkan, santai dan tidak bertanggung jawab, pekerjaannya tidak kunjung selesai dan kualitasnya tidak memenuhi standar yang diminta. Nah..karena pekerjaan harus selesai apapun alasannya, kita lah yang turun tangan mengerjakan bagian dia juga. Tidak bisa tidak. Oleh karena pekerjaan 2 orang dikerjakan 1 orang saja, kualitasnya biasanya menurun. Iya kan?
Lalu satu hal lagi yang jadi pertimbangan saya: bayangkan jika sudah memiliki anak. Saya inginnnn sekali anak saya memiliki dan menikmati hal-hal yang tidak bisa saya peroleh sekarang. Hal-hal yang bahkan dulu saya tidak tahu ada. Kalau hanya diperjuangkan sendiri pastilah berat.
Pernah mendengar bahwa menarik orang ke atas lebih sulit daripada menarik orang untuk turun? Nah...beberapa sepupu saya menikahi pasangan yang berbeda pola pikir soal materi. Sepupu-sepupu saya berpikir, jika bisa lebih, kenapa harus berhenti? Sedangkan pasangan mereka berpikir, apa yang dimiliki sekarang sudah cukup, untuk apa susah payah? Akhirnya beberapa dari mereka, setelah lelah menarik-narik pasangannya untuk berjuang lebih lagi demi meningkatkan taraf hidup, menyerah. Ada yang memutuskan berpisah. Ada yang memutuskan untuk berjuang sendiri dan pasangannya tetap dengan sikap santainya (tapi ikut menikmati keberhasilan sepupu saya, ahaha). Ada yang memilih mengikuti standar pasangannya.
Memang tidak salah hidup sederhana. Namun saya merasa, jika punya kemampuan dan tenaga, kenapa tidak berusaha?
Namun di sisi lain, saya juga memaklumi, ada yang melihat hal-hal selain materi adalah lebih berharga.
Tidak apa-apa juga sih. Manusia kan punya pengalaman hidup yang berbeda-beda.
Saya, karena belum pernah merasakan jadi orang tajir melintir, ingin merasakan jadi orang berlebih. Oleh karena itu, saya memilih pasangan yang ber-ide sama dan mau berusaha maksimal demi mencapainya.
Nanti jika sudah kaya raya, mungkin juga saya berubah pikiran dan benci harta terus jadi bertapa.
Siapa tahu kan? *nyengir lebar*
Baca posting itu bikin saya tergoda untuk update blog saya sendiri yang, syaolo, gak kesentuh nyaris setaun *menunduk malu*
Sampai-sampai ada yang ninggalin komen baru di-publish sekarang (maaf yaa mbak Rika) *menunduk makin dalam*
Jadi..saya suka liat gambar yang diposting di blog mbak Ira tadi. Ini nih gambarnya:
Saya dan sahabat-sahabat saya punya pikiran yang sama soal ini. Hanya saja, lingkungan mereka lebih...apa ya sebutannya? Lingkungan mereka memaklumi dan bahkan banyak yang mengamini ide tadi.
Saya 'kebetulan' berada di lingkungan yang cenderung melihat pikiran ini kurang pantas dianut kaum wanita. Sebutan matre sudah lama melekat pada saya; bercanda atau tidak kurang saya pedulikan sih.
Seperti tulisan di gambar atas dan juga posting mbak Ira, saya amat setuju tentang hal ini dari jaman saya kecil. Bukan berarti saya mencari lelaki kaya...semua lelaki pilihan saya di masa lalu tidak ada yang kaya raya. Tapiii...mereka berotak cerdas dan tangguh di padang yang bernama kehidupan ini (tjieee). Hal ini semakin kukuh saya jadikan pegangan ketika saya menyaksikan mama saya terkena kanker dan berjuang selama 2 tahun untuk sembuh. Mengapa? Hidup ini tidak bisa disangka loh ujiannya. Jadi, di medan laga ini kiranya kita cerdas memilih partner hidup. Jika memang tidak atau belum bertemu, jangan paksakan diri. Kesalahan memilih pasangan katanya neraka pribadi yang abadi, hehehe
Sekarang ya, coba kita andaikan calon pasangan hidup ini adalah partner kerja di kantor misalnya. Kalau partner kerja kita tidak bisa diandalkan, santai dan tidak bertanggung jawab, pekerjaannya tidak kunjung selesai dan kualitasnya tidak memenuhi standar yang diminta. Nah..karena pekerjaan harus selesai apapun alasannya, kita lah yang turun tangan mengerjakan bagian dia juga. Tidak bisa tidak. Oleh karena pekerjaan 2 orang dikerjakan 1 orang saja, kualitasnya biasanya menurun. Iya kan?
Lalu satu hal lagi yang jadi pertimbangan saya: bayangkan jika sudah memiliki anak. Saya inginnnn sekali anak saya memiliki dan menikmati hal-hal yang tidak bisa saya peroleh sekarang. Hal-hal yang bahkan dulu saya tidak tahu ada. Kalau hanya diperjuangkan sendiri pastilah berat.
Pernah mendengar bahwa menarik orang ke atas lebih sulit daripada menarik orang untuk turun? Nah...beberapa sepupu saya menikahi pasangan yang berbeda pola pikir soal materi. Sepupu-sepupu saya berpikir, jika bisa lebih, kenapa harus berhenti? Sedangkan pasangan mereka berpikir, apa yang dimiliki sekarang sudah cukup, untuk apa susah payah? Akhirnya beberapa dari mereka, setelah lelah menarik-narik pasangannya untuk berjuang lebih lagi demi meningkatkan taraf hidup, menyerah. Ada yang memutuskan berpisah. Ada yang memutuskan untuk berjuang sendiri dan pasangannya tetap dengan sikap santainya (tapi ikut menikmati keberhasilan sepupu saya, ahaha). Ada yang memilih mengikuti standar pasangannya.
Memang tidak salah hidup sederhana. Namun saya merasa, jika punya kemampuan dan tenaga, kenapa tidak berusaha?
Namun di sisi lain, saya juga memaklumi, ada yang melihat hal-hal selain materi adalah lebih berharga.
Tidak apa-apa juga sih. Manusia kan punya pengalaman hidup yang berbeda-beda.
Saya, karena belum pernah merasakan jadi orang tajir melintir, ingin merasakan jadi orang berlebih. Oleh karena itu, saya memilih pasangan yang ber-ide sama dan mau berusaha maksimal demi mencapainya.
Nanti jika sudah kaya raya, mungkin juga saya berubah pikiran dan benci harta terus jadi bertapa.
Siapa tahu kan? *nyengir lebar*
Tuesday, October 16, 2012
Mau Bertamasyaaa
Ih senangnya...
dan dengan super norak sejak kemarin saya susah tidoor...too excited!
Saya sudah packing aja doonk sejak minggu kemarin *lapkening
Terus bongkar lagi
Terus packing lagi
Begitu terus….. -__-
Mungkin inilah perasaannya orang labil ya, berubah mulu, gak yakin ama diri sendiri. Jadi kasian ama ababil…*et dah, kenapa jadi ngelantur.
Saya soalnya agak terobsesi untuk berkemas seminimal mungkin. Terinspirasi dari seorang sahabat saya (kedip mata ama Bebeb) yang selalu bikin takjub. Dia juga pereu. Namuun…dia mampu packing miniiiimmm banget tanpa mati gaya atau pake baju sampe dekil. Sungguh sangat inspirasional kan? Padahal ya, saya ini dibanding suami dan teman-teman saya lain, sudah paling ringan bawaannya kalau main bareng. Sampai kadang jadi gak pede. “Apa yang gak gw bawa ya??” kalau main bareng dulu ama anak-anak kampus atau kantor.
Itu dulu. Sebelum saya dipertemukan kembali (sedaaphh bahasanya :D) dengan sahabat-sahabat saya sejak…SD!
Ternyata di atas langit selalu ada langit.
Saya bawa koper waktu jalan ke Bandung; dia bawa ransel - dengan ukuran ransel punyanya anak sekolah yang mungil sajah. Waktu ke Yogya, terulang lagi.
Berbekal pengalaman seperti itu, saya berusaha berguru lah ya.
Katanya, bawalah celana jeans seminimal mungkin. Kalau sang suhu – si bebeb - ini, dia hanya pakai jeans untuk berangkat dan sewaktu pulang naik pesawat.
Untuk main, pakai rok atau clana pendek kain. Inget, kain.
Terus bawa baju yang bahannya ringan dan cepet kering. Gak usah bawa baju yang butuh pelengkap. Misal: rompi, cardigan, tank top. Usahain one piece ajuah. Apalagi agenda mainnya jalan-jalan ke pantai atau sawah atau air terjun. Tak perlu cem macem.
Saya bingung deh.
Sungguh.
Soalnya saya selalu pakai jeans selain ngantor. Rok yang saya punya khusus untuk gereja dan kondangan. Tak mungkin lah yaaa dibawa jalan-jalan ke Bali (eh iya, saya udah bilang belum kalau saya mau ke Bali? Belum? Sekarang udah yaa..*nyengir).
Pastinya baju renang dibawa lah jreng.
Bayangannya udah berenang aja di kolam hotel tiap hari, sungguh kampung ya..hahaha.
Nanti malam saya akan packing lagi. Milih baju lagi. Soalnya saya ingin koper saya yang sebiji itu cukup untuk main 3,5 hari di Bali plus apapun yang akan saya beli disana *silang jari berharap jangan kalap.
Saya pemalas…banget. Pergi tanpa suami atau adik lelaki saya berarti saya tidak punya ‘kuli panggul’ (hihihi). Jadi harus bawa barang sesedikit mungkin *ulang mantra berjuta kali biar meresap ke otak en tingkah.
Eniwei, apapun, saya sungguh menunggu-nunggu liburan ini. Kami gak nyiapin itin khusus. Yang dijadwal hanya: Potato Head. Karena PotHead paling mahal en butuh relokasi dana khusus, ceuu, kalo mau kesanah (stengah yeti kabarnya kalo mau duduk di pool – pulang gw ngesot dahh). Lainnya: keliaran sekitar Ubud. Hari terakhir, saya en bebeb akan keliaran di Kuta Legian. Lalu sambil liburan, kami harus saling mengingatkan bahwa duit gak tumbuh di pohon dan bahwa pulang liburan masi harus mikir makan sampe gajian berikutnya *meringis
Terlebih diatas segalanya, ingin ngomongin dunia ini dengan mereka, dari yang halal sampai yang haram. Sekalian mengadakan rapat eksekutip mengenai perencanaan pembuatan blog ‘geng’ kami *idih gengg.
Ide ini dari bebeb. Supaya kami yang terpisah mencar di 3 kota 2 propinsi ini bisa terus keep in touch. Soalnya saya dan temen saya neng Eti gak pesbukan (neng Eti kadang aktipin lagi katanya kalo ada undangan kawin temen, hihi). Agak susah mau crita ngapain aja, main kemana, dan updet kehidupan masing-masing. Selain itu, dua dari enam ‘geng’ kami ini gak ada blekberi, jadi gak ada di grup.
Supaya kagak putus temenan kami. Puluhan tahun booook….harus dijaga dan dirawat. Teknologi udah oke begini tinggal diri ini harus dipecut jangan males. Setubuh?
Yuk ah…ntar balik dari Bali sambung deui.
Ps. Tadinya saya pingin banget uplot poto kami, namun berhubung blon ijin sama mereka jadiii…jangan dulu lahhh…
dan dengan super norak sejak kemarin saya susah tidoor...too excited!
Saya sudah packing aja doonk sejak minggu kemarin *lapkening
Terus bongkar lagi
Terus packing lagi
Begitu terus….. -__-
Mungkin inilah perasaannya orang labil ya, berubah mulu, gak yakin ama diri sendiri. Jadi kasian ama ababil…*et dah, kenapa jadi ngelantur.
Saya soalnya agak terobsesi untuk berkemas seminimal mungkin. Terinspirasi dari seorang sahabat saya (kedip mata ama Bebeb) yang selalu bikin takjub. Dia juga pereu. Namuun…dia mampu packing miniiiimmm banget tanpa mati gaya atau pake baju sampe dekil. Sungguh sangat inspirasional kan? Padahal ya, saya ini dibanding suami dan teman-teman saya lain, sudah paling ringan bawaannya kalau main bareng. Sampai kadang jadi gak pede. “Apa yang gak gw bawa ya??” kalau main bareng dulu ama anak-anak kampus atau kantor.
Itu dulu. Sebelum saya dipertemukan kembali (sedaaphh bahasanya :D) dengan sahabat-sahabat saya sejak…SD!
Ternyata di atas langit selalu ada langit.
Saya bawa koper waktu jalan ke Bandung; dia bawa ransel - dengan ukuran ransel punyanya anak sekolah yang mungil sajah. Waktu ke Yogya, terulang lagi.
Berbekal pengalaman seperti itu, saya berusaha berguru lah ya.
Katanya, bawalah celana jeans seminimal mungkin. Kalau sang suhu – si bebeb - ini, dia hanya pakai jeans untuk berangkat dan sewaktu pulang naik pesawat.
Untuk main, pakai rok atau clana pendek kain. Inget, kain.
Terus bawa baju yang bahannya ringan dan cepet kering. Gak usah bawa baju yang butuh pelengkap. Misal: rompi, cardigan, tank top. Usahain one piece ajuah. Apalagi agenda mainnya jalan-jalan ke pantai atau sawah atau air terjun. Tak perlu cem macem.
Saya bingung deh.
Sungguh.
Soalnya saya selalu pakai jeans selain ngantor. Rok yang saya punya khusus untuk gereja dan kondangan. Tak mungkin lah yaaa dibawa jalan-jalan ke Bali (eh iya, saya udah bilang belum kalau saya mau ke Bali? Belum? Sekarang udah yaa..*nyengir).
Pastinya baju renang dibawa lah jreng.
Bayangannya udah berenang aja di kolam hotel tiap hari, sungguh kampung ya..hahaha.
Nanti malam saya akan packing lagi. Milih baju lagi. Soalnya saya ingin koper saya yang sebiji itu cukup untuk main 3,5 hari di Bali plus apapun yang akan saya beli disana *silang jari berharap jangan kalap.
Saya pemalas…banget. Pergi tanpa suami atau adik lelaki saya berarti saya tidak punya ‘kuli panggul’ (hihihi). Jadi harus bawa barang sesedikit mungkin *ulang mantra berjuta kali biar meresap ke otak en tingkah.
Eniwei, apapun, saya sungguh menunggu-nunggu liburan ini. Kami gak nyiapin itin khusus. Yang dijadwal hanya: Potato Head. Karena PotHead paling mahal en butuh relokasi dana khusus, ceuu, kalo mau kesanah (stengah yeti kabarnya kalo mau duduk di pool – pulang gw ngesot dahh). Lainnya: keliaran sekitar Ubud. Hari terakhir, saya en bebeb akan keliaran di Kuta Legian. Lalu sambil liburan, kami harus saling mengingatkan bahwa duit gak tumbuh di pohon dan bahwa pulang liburan masi harus mikir makan sampe gajian berikutnya *meringis
Terlebih diatas segalanya, ingin ngomongin dunia ini dengan mereka, dari yang halal sampai yang haram. Sekalian mengadakan rapat eksekutip mengenai perencanaan pembuatan blog ‘geng’ kami *idih gengg.
Ide ini dari bebeb. Supaya kami yang terpisah mencar di 3 kota 2 propinsi ini bisa terus keep in touch. Soalnya saya dan temen saya neng Eti gak pesbukan (neng Eti kadang aktipin lagi katanya kalo ada undangan kawin temen, hihi). Agak susah mau crita ngapain aja, main kemana, dan updet kehidupan masing-masing. Selain itu, dua dari enam ‘geng’ kami ini gak ada blekberi, jadi gak ada di grup.
Supaya kagak putus temenan kami. Puluhan tahun booook….harus dijaga dan dirawat. Teknologi udah oke begini tinggal diri ini harus dipecut jangan males. Setubuh?
Yuk ah…ntar balik dari Bali sambung deui.
Ps. Tadinya saya pingin banget uplot poto kami, namun berhubung blon ijin sama mereka jadiii…jangan dulu lahhh…
Friday, September 21, 2012
We're Programmed to be Lazy
Twit googlefacts beberapa hari yang lalu:
" We are by nature more happy when kept busy, however, we're programmed to be lazy."
Gila ya, penyakit manusia bisa digambarkan dengan tepat dalam satu kalimat *nyengir.
" We are by nature more happy when kept busy, however, we're programmed to be lazy."
Gila ya, penyakit manusia bisa digambarkan dengan tepat dalam satu kalimat *nyengir.
Monday, September 17, 2012
Stop Whining
Pilihan hidup
Saya sedang dikelilingi beberapa teman yang (menurut saya) sedang menipu diri.
Saya memahami patah hati dan jelas, pernah ngalamin namanya patah hati sampai jadi tolol. Siapapun yang pernah mengalami patah hati pasti bisa berempati dan bahkan bisa mengingat jelas kejadian tersebut walau sudah lama berlalu. Makanya waktu nemu blog ini pastinya saya juga ikut lelehh…
Nah, seperti yang sudah diketahui bersama, perasaan sih sulit ya (kalau gak boleh dibilang gak bisa) diatur. Seperti kata Meredith Grey di Grey’s Anatomy ke Finn waktu milih Derek
“…and you may even be the better guy. But…he’s the one. And I wish he wasn’t.” Kira-kira si Meredith ini helpless dan berharap sebenernya kalau si dokter ganteng ini bukanlah ‘the one’.
Oh the miserable road we chose for the sake of ‘the one’. Sama dari pihak si Derek oge. Dia juga jengkel sama diri sendiri karena biar bagaimanapun dia berusaha perbaiki pernikahannya dengan sang istri, Addison (which by the way gak kurang cantik atau pun kurang pinter), Meredith tetep yang dia liatin dengan matanya yang so McDreamy. Both tried to do the right thing.
Intinya, semua yang udah ngelewatin masa jatuh hati bukan sama yang orang diinginkan untuk dijatuhi hati, pasti ngerti rasanya patah hati.
Saya ingin membahas tindakan kita nyikapin jatuh hati ini.
Iya memang rasanya kiamat. Rasanya heran kenapa kalau memang bukan jodoh kok tetep cintaaa (seperti syair lagunya Daniel Bedingfield: ‘If I’m not made for you then why does my heart tell me that I am?’).
Itu wajar kok. Cinta itu gak bisa diatur.
Tapi ada yang bisa kita atur. Keputusan kita. Tindakan kita.
Kadang, keputusan sering gak sejalan sama hati. And it sucks, I know. Been there, done that. Jadi dewasa emang gak enak #eaaa
Makanya mungkin banyak alay yang berusia lebih dari 20 tahun; gak bisa move-on dari ke-ABG-annya. Soalnya masa ABG adalah masa yang ringan (ternyata ya!) dibanding setelahnya *nuduh
Kalau kamu dilecehin pasangan kamu, diselingkuhin, dikatain bodoh, dijanjiin dinikah tapi diundur terus sampe lewat setaun…kira-kira pinter gak kalau tetep pertahanin hubungan sama dia?
Nah tapiii…kalau memutuskan untuk bertahan – dengan alasan romantis picis seperti: cinta – yah, jangan cengeng. Udah tau dia tukang selingkuh dan udah lebih dari 3 kali ketahuan (entah berapa kali yang gak ketauannya), tetep juga dipertahankan; jadilah dewasa dan bertanggung jawab. Artinya, nggak ada yang paksa kamu untuk terus bersama dia, apapun yang terjadi, ya resiko. Iya tho? Semua temen dan kenalan udah menyarankan jangan diterusin. Kamu juga udah berniat demikian tapi, sekali lagi atas nama cinta (nyengir ah), kamu mencoba untuk bertahan dan nerima dia kembali.
Keras? Iya kali ya. Soalnya….hmmm…masalah hidup itu..banyak yang lebih berat (imho) dari cinta-cintaan. Kalau kerjaan sampe berantakan karena pacar, aduh…
Mungkin ada yang kerja hanya untuk have fun; tapi biarpun demikian, nangis di kantor en diketahui nyaris semua kolega, sangat tidak profesional. Apalagi mengumbar cerita untuk kesekian kalinya dikhianati pacar. People will lose respect.
Dan…bukan mau mendoakan atau menakut-nakuti, hidup ini seneng banget lempar-lempar cobaan yang hanya bisa kita jalanin dengan ikhlas dan berserah. Nothing we can do to make it good. Seperti kehilangan orang terkasih karena kematian, kehilangan pekerjaan, sakit yang belum ada obatnya..those kind of things. Kamu bisa berusaha macam-macam namun untuk hal-hal seperti ini, hasilnya ada dalam kuasa-Nya.
Untuk hal-hal yang masih bisa kamu tangani sendiri, please, jadilah cerdas.
Tidak apa-apa kamu masih menangis mengenang dia sampai bertahun-tahun. Bisa dimengerti kamu masih galau sampai ‘nyampah’ di dunia maya dan nyata. Seperti yang saya bilang, perasaan itu gak bisa diatur.
Namun keputusan kamu, apa yang kamu lakukan adalah tanggung jawab kamu. Kalau memang kamu ‘suka’ menderita, silahkan. Hanya, hargai orang-orang yang begitu peduli dan meminta kamu memutuskan jalan yang lebih baik. Caranya? Jangan manja. Jalanin keputusan kamu sampai titik darah penghabisan kalau memang itu yang kamu inginkan. Jangan merengek, mengeluh dan terus-terusan bertanya “Kenapa begini sih hidupku?”. Itu seperti kamu memegang setrika panas. Semua disekitar kamu menjerit suruh kamu lepasin. Kamu gak lepasin. Tapi kamu terus menerus menjerit “Aduh panas..tolong…panas banget.” -___- !
Biasanya yang dibilangin begini akan mengeluh seperti ini“Kamu gak tahu sih rasanya jadi saya.” Kalau sudah itu yang mereka katakan, saya hanya diam tersenyum…dan kembali berjuang dalam diam membereskan hati saya sendiri.
Saya sedang dikelilingi beberapa teman yang (menurut saya) sedang menipu diri.
Saya memahami patah hati dan jelas, pernah ngalamin namanya patah hati sampai jadi tolol. Siapapun yang pernah mengalami patah hati pasti bisa berempati dan bahkan bisa mengingat jelas kejadian tersebut walau sudah lama berlalu. Makanya waktu nemu blog ini pastinya saya juga ikut lelehh…
Nah, seperti yang sudah diketahui bersama, perasaan sih sulit ya (kalau gak boleh dibilang gak bisa) diatur. Seperti kata Meredith Grey di Grey’s Anatomy ke Finn waktu milih Derek
“…and you may even be the better guy. But…he’s the one. And I wish he wasn’t.” Kira-kira si Meredith ini helpless dan berharap sebenernya kalau si dokter ganteng ini bukanlah ‘the one’.
![]() |
| Isn't he just yummy??! |
Intinya, semua yang udah ngelewatin masa jatuh hati bukan sama yang orang diinginkan untuk dijatuhi hati, pasti ngerti rasanya patah hati.
Saya ingin membahas tindakan kita nyikapin jatuh hati ini.
Iya memang rasanya kiamat. Rasanya heran kenapa kalau memang bukan jodoh kok tetep cintaaa (seperti syair lagunya Daniel Bedingfield: ‘If I’m not made for you then why does my heart tell me that I am?’).
Itu wajar kok. Cinta itu gak bisa diatur.
Tapi ada yang bisa kita atur. Keputusan kita. Tindakan kita.
Kadang, keputusan sering gak sejalan sama hati. And it sucks, I know. Been there, done that. Jadi dewasa emang gak enak #eaaa
Makanya mungkin banyak alay yang berusia lebih dari 20 tahun; gak bisa move-on dari ke-ABG-annya. Soalnya masa ABG adalah masa yang ringan (ternyata ya!) dibanding setelahnya *nuduh
Kalau kamu dilecehin pasangan kamu, diselingkuhin, dikatain bodoh, dijanjiin dinikah tapi diundur terus sampe lewat setaun…kira-kira pinter gak kalau tetep pertahanin hubungan sama dia?
Nah tapiii…kalau memutuskan untuk bertahan – dengan alasan romantis picis seperti: cinta – yah, jangan cengeng. Udah tau dia tukang selingkuh dan udah lebih dari 3 kali ketahuan (entah berapa kali yang gak ketauannya), tetep juga dipertahankan; jadilah dewasa dan bertanggung jawab. Artinya, nggak ada yang paksa kamu untuk terus bersama dia, apapun yang terjadi, ya resiko. Iya tho? Semua temen dan kenalan udah menyarankan jangan diterusin. Kamu juga udah berniat demikian tapi, sekali lagi atas nama cinta (nyengir ah), kamu mencoba untuk bertahan dan nerima dia kembali.
Keras? Iya kali ya. Soalnya….hmmm…masalah hidup itu..banyak yang lebih berat (imho) dari cinta-cintaan. Kalau kerjaan sampe berantakan karena pacar, aduh…
Mungkin ada yang kerja hanya untuk have fun; tapi biarpun demikian, nangis di kantor en diketahui nyaris semua kolega, sangat tidak profesional. Apalagi mengumbar cerita untuk kesekian kalinya dikhianati pacar. People will lose respect.
Dan…bukan mau mendoakan atau menakut-nakuti, hidup ini seneng banget lempar-lempar cobaan yang hanya bisa kita jalanin dengan ikhlas dan berserah. Nothing we can do to make it good. Seperti kehilangan orang terkasih karena kematian, kehilangan pekerjaan, sakit yang belum ada obatnya..those kind of things. Kamu bisa berusaha macam-macam namun untuk hal-hal seperti ini, hasilnya ada dalam kuasa-Nya.
Untuk hal-hal yang masih bisa kamu tangani sendiri, please, jadilah cerdas.
Tidak apa-apa kamu masih menangis mengenang dia sampai bertahun-tahun. Bisa dimengerti kamu masih galau sampai ‘nyampah’ di dunia maya dan nyata. Seperti yang saya bilang, perasaan itu gak bisa diatur.
Namun keputusan kamu, apa yang kamu lakukan adalah tanggung jawab kamu. Kalau memang kamu ‘suka’ menderita, silahkan. Hanya, hargai orang-orang yang begitu peduli dan meminta kamu memutuskan jalan yang lebih baik. Caranya? Jangan manja. Jalanin keputusan kamu sampai titik darah penghabisan kalau memang itu yang kamu inginkan. Jangan merengek, mengeluh dan terus-terusan bertanya “Kenapa begini sih hidupku?”. Itu seperti kamu memegang setrika panas. Semua disekitar kamu menjerit suruh kamu lepasin. Kamu gak lepasin. Tapi kamu terus menerus menjerit “Aduh panas..tolong…panas banget.” -___- !
Biasanya yang dibilangin begini akan mengeluh seperti ini“Kamu gak tahu sih rasanya jadi saya.” Kalau sudah itu yang mereka katakan, saya hanya diam tersenyum…dan kembali berjuang dalam diam membereskan hati saya sendiri.
Monday, September 10, 2012
Sunday Mass this week
Saya kemarin kebaktian hari Minggu di GKI Diponegoro, Surabaya. Waktu itu yang melayani firman adalah Pdt. Arliyanus Larosa. Awalnya saya mendengar pembukaan khotbah beliau agak ilfil. Soalnyaaa...kan bahas soal kerendahan hati. Rendah itu artinya ya lemah, bukan apa-apa, miskin.
Nah, dari situ saya nangkepnya mau disuruh jadi lemah, miskin, etc. Walau dalam pikiran saya “Apa iya sih disuruh begitu?” Ternyata memang saya…salah *nyengir
Coba saya jabarkan ya khotbah bapak pendeta ini dengan semampu saya. Sebelumnya maap banget kalau ada yang kurang tepat, tapi mudahan jangan sampe salah ya.
Jadi bacaan diambil dari Markus 7:24-30 (salah satunya). Tentang iman seorang perempuan Siro-Fenisia yang dianggap orang Yahudi orang Kafir (disini pak pendeta sempat mengomentari betapa sekarang semua saling mengatai yang lain kafir “…belagu amat..” dan saya tersenyum karena akhir-akhir ini demikian adanya).
Namun karena ibu ini menunjukkan kerendahan hati dan iman yang besar, Allah menolongnya. Saya masih agak terganggu dan masih harus mencari penjelasan kenapa Tuhan menguji iman ibu ini dengan merendahkan dan menghina dia. Tapi at the very least, saya belajar sesuatu yang amat sangat berharga hari itu mengenai kerendahan hati.
Tantangan menjadi rendah hati adalah, jika kita rendah hati, kita takut tidak dianggap ‘serius’ oleh pihak sekitar.
Jaman sekarang yang mana budaya untuk menunjukkan “Ini aku.” (dirasa) dibutuhkan untuk mencapai posisi dihormati dan disegani, kerendahan hati bukanlah sesuatu yang lazim. Jika di kantor misalnya, jarang terjadi atasan yang menyapa bawahan terlebih dahulu. Takut tidak dianggap dan jika terlalu akrab nanti bawahan menjadi kurang hormat. Seperti di restoran, para pelayan sigap melayani dan ramah menanyakan kebutuhan kita. Kita, sebagai pelanggan, kadang tidak membalas sapaan dan senyuman ramah mereka karena kita menganggap kita lebih tinggi, memang pantas dilayani. Mungkin ada yang berpikir bahwa mereka dibayar, kata pak pendeta, mengucapkan apa yang saya ucapkan dalam hati *nyengir. “…tapi kita juga sering kan menemukan pelayan yang tidak ramah? Cemberut sewaktu kita memanggil dan tidak sigap melakukan tugasnya. Pelayan yang ramah itu adalah pelayan yang berhasil menempatkan orang lain –dalam hal ini pelanggannya- di depan kepentingannya sendiri.” Ini adalah salah satu ‘rumus’ rendah hati. Mendahulukan orang lain ketimbang diri sendiri.
Pendeta juga bercerita bahwa seperti biasanya budaya di Indonesia, ia juga dibesarkan dalam keluarga yang melihat bapak itu adalah raja. Bapak itu datang ke meja makan setelah semua siap. Kursi yang ditempati adalah yang terbaik. Makanan juga diletakkan paling lengkap dekat posisi bapak. Sewaktu pak pendeta menikah, ia mengakui bahwa melaksanakan apa yang diajarkan firman amatlah sangat sulit. Ia mencontohkan, di rumah, ia ikut sibuk menyapu mengepel (yang mana menurut pak pendeta, ketika orangtuanya tahu, mereka menangis karena tidak rela anak lelakinya melakukan pekerjaan rumah seperti itu) dan berbagi tugas menyiapkan makan keluarga setiap hari. Resikonya ada, kadang anak-anak lupa bahwa ayah mereka tetaplah sosok yang harus dihormati. Butuh kerja keras dan kerendahan hati untuk melakukan teladan Allah.
Berikut yang saya ingat dan melekat di hati saya, untuk menjadi orang yang rendah hati dibutuhkan percaya pada-Nya. Berserah bahwa kita percaya Dia yang memelihara kita. Saya sungguh baru menyadari, inilah yang sulit. Sebagai manusia, kita sering ingin mengatur dan memaksa rencana kita pribadi untuk terjadi. Hanya dengan rendah hati mengakui kita manusia dan Allah yang berkuasa memampukan kita untuk menyerahkan hidup kita pada-Nya. Demikian pun sebaliknya. Kita percaya, walau kita tidak pamer kuasa dan pamer kekuatan, Allah akan memberikan apa yang kita perlukan.
Itu sulitttt.
Ada rasa khawatir, kalau saya tidak begini atau tidak begitu, apa yang saya inginkan tidak bisa tercapai. Kita berhenti percaya kalau Allah yang punya kuasa; kita percaya apa yang terjadi dalam hidup kita adalah karena KITA. Wahh…
Lalu, pak pendeta juga menyinggung, sering kita tidak mengakui ada masalah yang membutuhkan pertolongan atau konseling pihak ketiga karena gengsi. Selain juga karena takut jadi bahan omongan orang lain. “Itu juga sikap tidak rendah hati. Tidak mau dibilang tidak harmonis? Ya memang tidak harmonis kok. Akui saja. Lha memang tidak bisa rukun.” Mengakui ada masalah adalah sikap rendah hati yang memungkinkan kita meminta pertolongan orang lain. Tanpa itu, masalah tidak kunjung selesai dan semakin parah.
Pendeta mendekati akhir khotbah juga mengajak kita saling mawas diri, apakah diri sendiri sudah menjadi istri/suami/anak yang sesuai dengan firman Allah. Pendeta mengatakan, terkadang kita merasa apa yang kita lakukan sudah benar. Contoh: walau untuk bekerja, pendeta tetap menyadari bahwa perjalanan dinas yang mengharuskannya meninggalkan keluarga tetaplah meninggalkan. Jadi, walau lelah, walau hanya sehari, pak pendeta berusaha pulang sebelum melanjut perjalanan berikutnya. Itu adalah tugasnya sebagai seorang suami dan seorang ayah.
Khotbah yang amat sangat mengena di hati saya dan apa yang diucapkan masih terus terngiang. Semoga membuat saya berubah menjadi lebih baik ya, bukan hanya untuk diingat saja. Oh ya, dan tentuuu..bersyukur bisa mengikuti khotbah yang dibawakan bapak pendeta ini, yang ternyata jauh-jauh datang dari Jakarta untuk membawakan firman ke Surabaya J
Nah, dari situ saya nangkepnya mau disuruh jadi lemah, miskin, etc. Walau dalam pikiran saya “Apa iya sih disuruh begitu?” Ternyata memang saya…salah *nyengir
Coba saya jabarkan ya khotbah bapak pendeta ini dengan semampu saya. Sebelumnya maap banget kalau ada yang kurang tepat, tapi mudahan jangan sampe salah ya.
Jadi bacaan diambil dari Markus 7:24-30 (salah satunya). Tentang iman seorang perempuan Siro-Fenisia yang dianggap orang Yahudi orang Kafir (disini pak pendeta sempat mengomentari betapa sekarang semua saling mengatai yang lain kafir “…belagu amat..” dan saya tersenyum karena akhir-akhir ini demikian adanya).
Namun karena ibu ini menunjukkan kerendahan hati dan iman yang besar, Allah menolongnya. Saya masih agak terganggu dan masih harus mencari penjelasan kenapa Tuhan menguji iman ibu ini dengan merendahkan dan menghina dia. Tapi at the very least, saya belajar sesuatu yang amat sangat berharga hari itu mengenai kerendahan hati.
Tantangan menjadi rendah hati adalah, jika kita rendah hati, kita takut tidak dianggap ‘serius’ oleh pihak sekitar.
Jaman sekarang yang mana budaya untuk menunjukkan “Ini aku.” (dirasa) dibutuhkan untuk mencapai posisi dihormati dan disegani, kerendahan hati bukanlah sesuatu yang lazim. Jika di kantor misalnya, jarang terjadi atasan yang menyapa bawahan terlebih dahulu. Takut tidak dianggap dan jika terlalu akrab nanti bawahan menjadi kurang hormat. Seperti di restoran, para pelayan sigap melayani dan ramah menanyakan kebutuhan kita. Kita, sebagai pelanggan, kadang tidak membalas sapaan dan senyuman ramah mereka karena kita menganggap kita lebih tinggi, memang pantas dilayani. Mungkin ada yang berpikir bahwa mereka dibayar, kata pak pendeta, mengucapkan apa yang saya ucapkan dalam hati *nyengir. “…tapi kita juga sering kan menemukan pelayan yang tidak ramah? Cemberut sewaktu kita memanggil dan tidak sigap melakukan tugasnya. Pelayan yang ramah itu adalah pelayan yang berhasil menempatkan orang lain –dalam hal ini pelanggannya- di depan kepentingannya sendiri.” Ini adalah salah satu ‘rumus’ rendah hati. Mendahulukan orang lain ketimbang diri sendiri.
Pendeta juga bercerita bahwa seperti biasanya budaya di Indonesia, ia juga dibesarkan dalam keluarga yang melihat bapak itu adalah raja. Bapak itu datang ke meja makan setelah semua siap. Kursi yang ditempati adalah yang terbaik. Makanan juga diletakkan paling lengkap dekat posisi bapak. Sewaktu pak pendeta menikah, ia mengakui bahwa melaksanakan apa yang diajarkan firman amatlah sangat sulit. Ia mencontohkan, di rumah, ia ikut sibuk menyapu mengepel (yang mana menurut pak pendeta, ketika orangtuanya tahu, mereka menangis karena tidak rela anak lelakinya melakukan pekerjaan rumah seperti itu) dan berbagi tugas menyiapkan makan keluarga setiap hari. Resikonya ada, kadang anak-anak lupa bahwa ayah mereka tetaplah sosok yang harus dihormati. Butuh kerja keras dan kerendahan hati untuk melakukan teladan Allah.
Berikut yang saya ingat dan melekat di hati saya, untuk menjadi orang yang rendah hati dibutuhkan percaya pada-Nya. Berserah bahwa kita percaya Dia yang memelihara kita. Saya sungguh baru menyadari, inilah yang sulit. Sebagai manusia, kita sering ingin mengatur dan memaksa rencana kita pribadi untuk terjadi. Hanya dengan rendah hati mengakui kita manusia dan Allah yang berkuasa memampukan kita untuk menyerahkan hidup kita pada-Nya. Demikian pun sebaliknya. Kita percaya, walau kita tidak pamer kuasa dan pamer kekuatan, Allah akan memberikan apa yang kita perlukan.
Itu sulitttt.
Ada rasa khawatir, kalau saya tidak begini atau tidak begitu, apa yang saya inginkan tidak bisa tercapai. Kita berhenti percaya kalau Allah yang punya kuasa; kita percaya apa yang terjadi dalam hidup kita adalah karena KITA. Wahh…
Lalu, pak pendeta juga menyinggung, sering kita tidak mengakui ada masalah yang membutuhkan pertolongan atau konseling pihak ketiga karena gengsi. Selain juga karena takut jadi bahan omongan orang lain. “Itu juga sikap tidak rendah hati. Tidak mau dibilang tidak harmonis? Ya memang tidak harmonis kok. Akui saja. Lha memang tidak bisa rukun.” Mengakui ada masalah adalah sikap rendah hati yang memungkinkan kita meminta pertolongan orang lain. Tanpa itu, masalah tidak kunjung selesai dan semakin parah.
Pendeta mendekati akhir khotbah juga mengajak kita saling mawas diri, apakah diri sendiri sudah menjadi istri/suami/anak yang sesuai dengan firman Allah. Pendeta mengatakan, terkadang kita merasa apa yang kita lakukan sudah benar. Contoh: walau untuk bekerja, pendeta tetap menyadari bahwa perjalanan dinas yang mengharuskannya meninggalkan keluarga tetaplah meninggalkan. Jadi, walau lelah, walau hanya sehari, pak pendeta berusaha pulang sebelum melanjut perjalanan berikutnya. Itu adalah tugasnya sebagai seorang suami dan seorang ayah.
Khotbah yang amat sangat mengena di hati saya dan apa yang diucapkan masih terus terngiang. Semoga membuat saya berubah menjadi lebih baik ya, bukan hanya untuk diingat saja. Oh ya, dan tentuuu..bersyukur bisa mengikuti khotbah yang dibawakan bapak pendeta ini, yang ternyata jauh-jauh datang dari Jakarta untuk membawakan firman ke Surabaya J
Subscribe to:
Posts (Atom)

